Target VS Tuhan

Salah satu hal yang memberatkan hati saat memiliki target adalah beban target harus tercapai.

Jadi target yang ditetapkan telah menjadi beban pikiran dan hati berupa kekhawatiran atau ketakutan, bagaimana bila tidak tercapai?

Bahkan bila pun dipaksakan membayangkan tercapai, ada pikiran yang mempertanyakan dari mana sumbernya hingga bisa tercapai?

Pikiran khawatir tidak tercapai dan atau mempertanyakan sumber tercapainya, adalah sebuah kenyataan bahwa target tersebut baru masuk ke keinginan, belum menjadi program pikiran.

Atau dengan kata lain, ada program pikiran lain -yang bukan keinginan- yang sedang berkuasa dan "merevisi" seluruh keinginan termasuk target Anda.

Sebenarnya ini adalah informasi berharga, Anda jadi tahu di posisi bagian mana keinginan Anda dalam pikiran. 

Lalu dengan target yang ingin dicapai, Anda pun tahu apa yang mesti dilakukan agar target tersebut menjadi program pikiran.

Dengan cara itulah Anda bisa merumuskan "apa yang perlu saya lakukan sekarang agar target yang ditetapkan terwujud dengan mudah, nyaman, dan membahagiakan?"

Saya tidak tahu jawaban pikiran Anda, tapi kasus ke saya adalah mengingat kembali target yang ingin dicapai lalu mengucapkan hooponopono sampai merasa plong.

Setelah itu disambung dengan mengucapkan Hamdallah sampai benar-benar plong, lega, atau tenang. 

Saat mengingat target, hati saya lebih tenang. Kemudian bayangkan kembali target yang ingin dicapai tapi dengan detil yang lebih banyak.

Seolah-olah melihat sebuah film masa depan dimana target saya tercapai, lalu ucapkan "Laa Ilaha Ilallah" berulang-ulang sehingga terpatri dalam jiwa saya bahwa Tuhan-lah yang Berkuasa mewujudkan target.

Terakhir, saya MEMILIH pasrah apakah kelak target tersebut akan tercapai atau tidak. Sebab saya memilih Allah, bukan target.

Pasrah, hakikatnya adalah bukti percaya kepadaNya sebab sudah mengenalNya. Pasrah pun, bisa berarti berprasangka baik bahwa Allah akan memberikan yang terbaik.

Perasaan ini tidak muncul tiba-tiba, tapi lewat interaksi dzikir yang sudah dilakukan di awal tadi, lalu pupuk terus dengan amal baik.

Maksudnya, terlepas target akan tercapai atau tidak, saya menjadikan ikhtiar sebagai bentuk amal terbaik dipersembahkan untuk Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kamu adalah aku dalam versi yang berbeda

Aku dan Semestamu

Aku