Izinkan aku menulis sebuah sajak elegi tentang bagaimana caraku membencimu di kala aku menyayangimu
Aku tahu betul bahwa aksara dan suara yang pernah terlontar dari bibirku, perihal aku sangat benci padamu adalah sebuah awal dari kata 'jarak'. Sebagai batu bata pertama atas dinding pemisah yang kubangun paksa atas semua perasaan ini, pertanda awal dari bagaimana caraku untuk menjauh darimu. Bukan karena benci, tapi karena aku ingin mencintai diri sendiri.
Dengan berat dan gundah yang berkepanjangan, aku meyakinkan segenap jiwaku untuk beranjak. Menuju kota lama di mana belum ada kembang api yang muncul kala itu. Menuju pulang kembali ke rumah lama yang usang namun hangat perihal bagaimana rasanya nyaman menjalani hari. Tanpa harus mengingat lagi bagaimana caraku mencintai pada sesuatu yang tak mau mengerti.
Izinkan aku untuk hilang tanpa jejak, tanpa secercah cahaya, tanpa setitik rasa penyesalan di depan mata. Izinkan aku untuk berpura-pura melangkah menjauhimu di kala aku sesak tak tertahan. Aku memang memegang pergi, tapi kembalipun bukan hal yang kunikmati. Susah memang dengan segundah kalut-kemelut perihal mencintai diri sendiri atau tidak lagi sendiri tapi tersakiti.
Dalam bayangan gelap, dalam sudut terpojok dari bola matamu, dari jauh yang terpaut tak tersentuh, dalam hening dan keramaian yang menyeruak, dan dalam waktu yang berlalu begitu cepat. Aku selalu ingat potongan rambutmu, jaket biru yang kau kenakan, caramu berjalan dengan kedua kakimu, tulisan tanganmu, tinggi rendahnya suaramu, aroma wangi badanmu, dan setiap inci tentangmu.
Aku pergi bukan karena benci maupun ingin, tapi perihal bagaimana caraku mengobati diri tanpa mengusik siapapun. Semoga kau mengerti, di tiap langkahku berlari menjauh, ada engkau yang selalu kucoba genggam penuh. Dalam bayang, dalam kenang, dalam imaji, hanya dalam harap-harap belaka.
Setidaknya di sini aku sedikit merasa lega.
Komentar
Posting Komentar