Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

MEMILIH SEPI

Yang rapuh dan sedang tersungkur bukan hanya aku. Yang meraung-raung butuh pertolongan bukan hanya aku. Yang dibekap sepi bukan hanya aku.  Dari sini aku baru mengerti bahwa dalam kesendirian aku tidak sendiri. Bahwa di belahan dunia lain juga ada orang-orang yang merasa sendiri. Ada orang-orang yang merasa tidak ada sepasang telinga yang cukup memahami. Lantas lewat kesendirian yang sama-sama kami rasakan, kami cukup mengerti untuk tidak saling mencaci. Kami cukup mengerti, bahwa jadi peduli itu berarti. Dari sini juga aku belajar bahwa ternyata sepi pemilih. Ia tidak sembarang memilih orang untuk dibekap, ia memilih seseorang yang cukup kuat. Dan pada akhirnya, kami tetap ada. Kami lebih kuat dari sebelumnya.

Menangis dan berjanjilah

Menangislah bila kau ingin.  Tak peduli entah kau seorang puan atau tuan, kau berhak untuk sekadar meneteskan air mata. Mengeluarkan semua emosi yang sudah lama tertahan, terlampau penuh hingga dapat meluap kapan saja tanpa tanda dan kata.  Kau mungkin merasa sangat muak pada dunia, murka atas apa yang sedang terjadi. Bertanya mengapa semesta seolah sengaja membuatmu tak berdaya, mengusikmu dengan kesedihan yang tak bertepi.  Hidup memang tak selalu penuh suka dan tawa, kadang duka dan luka hadir untuk menyapamu. Menguji seberapa hebat kau mampu bertahan, melewati hiruk pikuk dunia yang mana tiap jengkalnya mesti diperjuangkan.  Menangislah bila kau ingin.  Jangan terus-terusan memasang senyum palsu itu, memaksa diri untuk terlihat ceria meski hatimu menjerit kesakitan. Tangis itu manusiawi, kau tidak perlu malu. Setidaknya tetes-tetes asin yang jatuh dari pelupuk mata akan memberimu sedikit kehangatan. Kau tak mau menangis sebab takut terlihat lemah, takut dipa...

Maukah kamu mendengarkan aku kali ini saja?

Teruntuk kamu yang sedang merasa lelah dalam menjalani hidup, maukah kamu  mendengarkan aku kali ini saja? Aku tahu bahwa aku tidak memiliki kemampuan untuk menghilangkan seluruh beban yang sedang kamu rasakan. Namun, setidaknya aku ingin mencoba untuk mengingatkanmu bahwa di sini masih ada seseorang yang ingin agar kamu tetap bertahan. Jika kamu sedang merasa tidak baik-baik saja, cobalah untuk menerima apa yang sedang kamu rasakan. Kamu tidak seharusnya berpura-pura. Semakin kamu menolak perasaanmu, semakin berat bagimu untuk melewati titik terendahmu. Terima dan cobalah untuk mencari setidaknya satu alasan bagimu untuk bangkit dari situasi itu.  Jika kamu sedang merasa terluka, cobalah untuk memaafkan orang-orang yang telah membuat hatimu terluka. Jika sulit, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan hal itu. Namun, aku akan memintamu untuk berhenti menyalahkan takdir yang telah mempertemukan mereka denganmu. Jangan menyesali setiap orang yang datang ke dalam ...

Jika aku dapat berbicara

Jika aku dapat berbicara melalui tulisanku, maka biarkan aku tetap melakukan hal itu. Biarkan aku bercerita kepada dunia mengenai asaku yang luruh, pikiranku yang sering kali bergemuruh, hingga aku yang berkali-kali jatuh. Setidaknya, tolong mengertilah bahwa menulis merupakan satu-satunya cara bagiku untuk mengelola perasaanku. Jika aku dapat berbicara melalui tulisanku, maka biarkan aku tetap melakukan hal itu. Biarkan aku melukiskan bagaimana getirnya kehidupan yang dimiliki oleh setiap manusia. Aku tidak ingin dunia ini hanya dipenuhi oleh kepalsuan belaka. Percayalah, di balik indahnya kehidupan seseorang pasti ada kepedihan yang sedang disembunyikannya. Jika aku dapat berbicara melalui tulisanku, maka biarkan aku tetap melakukan hal itu. Aku tak pandai dalam berbicara. Sukar bagiku untuk mengungkapkan apa yang kurasa. Terlebih sejak lingkunganku memilih untuk menghakimiku tanpa mencoba untuk memahami kisah yang kupunya. Lagipula saat ini, siapa yang bersedia untuk menjadi pendeng...

Bagaimana tuan?

Bagaimana Setelah Meninggalkanku? Setelah kepergianmu yang lalu, rasanya lega sekali telah melewati fase terlemahku Awalnya aku terbata-bata dihadapan mereka, Syukurnya, Allah membantuku untuk menegaskan, bahwa aku sudah baik-baik saja. Oiya, Setelah perpisahan itu, bagaimana setelah meninggalkanku? Bagaimana rasanya tanpa adanya aku lagi dalam kehidupanmu? Bagaimana rasanya meniatkan diri mencari pengganti setelahku? Tenang saja, aku tak berniat memohon belas kasihan Akan tetapi berpura-pura mengakui kejadian lalu adalah hal yang biasa Sungguh, itu lebih pelik dari rasa perihku Oleh karenanya, kutuliskan meski tak seberapa. Tenang, aku tidak akan mengatakan bahwa rindu ini masih tabah Atau cinta ini masih sebegitu teguh. Aku hanya ingin bertanya dengan pertanyaan yang masih terngiang dan berputar dalam labirin ingatan. Pertama, Bagaimana setelah meninggalkanku? Apakah malam malammu, dan mimpi-mimpimu menyedihkan sepertiku yang lalu? Jika iya,aku tak bisa bayangkan, ...

Aku dan Semestamu

Matahari yang menolak terbenam demi memperpanjang sukacitamu menikmati sore. Malam yang datang tergesa-gesa agar berakhir hari lelahmu dan tubuhmu beristirahat di antara sulur-sulur kegelapanku yang menenangkan. Secangkir teh yang selalu menghangatkan dirinya agar tetap nikmat saat kauteguk pada pagi hari. Aku ingin menjadi semua hal yang jarang dikerjakan semesta demi memenangkanmu. Kau, meski tengah merawat kesedihan, akan selalu mampu menemukanku untuk menawarkanmu sepotong senyuman. Hari-hari memang tidak selalu baik. Lelahmu memang tidak selalu cepat luluh. Namun, cintaku yang sederhana akan selalu mampu menjagamu dari hal-hal yang menakutkan dan membinasakan. Kau tetap akan jatuh, tetapi tidak sampai tergeletak karena lengan-lenganku diciptakan Tuhan persis untuk menahan dan memelukmu. Rumah sederhana yang kita bangun berdua akan selalu kuhangatkan dengan tulisan dan pelukan. Pada suatu sore yang mendung dan sepi, tangan hangatmu menggenggam tangan kiriku sedang tanganku yang l...

Aku

Aku tidak jual mahal. Aku hanya ingin melihat sampai mana keseriusanmu untuk bisa berada dalam posisi yang aku percayakan segalanya. Aku paham betapa berantakannya diriku. Sebentar berada pada kondisi paling baik, sebentar berada pada kondisi paling pelik. Seumpama sedang naik kincir ria, sedetik di ketinggian mampu melihat segala yang indah tiada dua, lalu limbung ketika gondola berada di sudut empat puluh lima derajat sebelum pada tanah kembali mendarat. Aku mengerti betapa tidak stabilnya diriku. Aku takut ketika kamu terlampau dekat dan aku sekarat, aku akan mendorongmu menjauh lantas kamu akan menganggap itu sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh.  Suatu hari nanti, aku berharap aku akan cukup berani untuk membuka diri. Suatu hari nanti, aku berharap ada seseorang yang melihat sisi terbaikku dan sisi terburukku, kemudian tetap tinggal dan tak tanggal. Suatu hari nanti, aku ingin ketakutanku hanya sebatas pada ketinggian, atau tenggelam, atau kegelapan, atau laba-laba, atau kec...